Welcome !

Perkenalkan Saya Fidelis Satrio Laba Pelajar/Mahasiswa Suka Berpetualang

Hasil Karyaku

Tentang Saya

Mahasiswa
Introvert Ekstrovert
Petualang
Tentang Saya

Fidelis Satrio Laba

Mahasiswa PBSI Unika Santu Paulus Ruteng

Seorang manusia yang mencintai sastra , lahir dan dibesarkan di Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Sekarang berstatus sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng Bercita-cita menjadi seorang pendidik yang bahagia mampu menularkan ilmu yang didapat kepada peserta didik agar kelak menjadi pemuda/i yang berguna bagi nusa dan bangsa. Aminnnnn..

Jenis Postingan

Puisi

Ada berbagai tulisan puisi yang kubuat sendiri mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua

Pantun

Pantun adalah salah satu jenis budaya sastra lama di Indonesia yang wajib dilestarikan

Kata Mutiara

Kata-kata indah berisi motivasi, sajak, ataupun sekadar perasaan yang aku alami tiap hari

Tulisan lainnya

Tulisan lain yang menginspirasi mulai dari resensi buku, novel, feature, dan lain sebagainya hasil karyaku. Semoga bermanfaat

Hasil Karyaku

Resensi Buku "Cinta Tak Kenal Batas Waktu"

Judul

: Cinta Tak Kenal Batas Waktu

Penulis

: Wulan Murti

Penerbit

: Senja

Kategori

: Novel

Tahun Terbit

: 2016

Jumlah halaman

: 212 halaman

Ukuran buku

: 13 x 19 cm

Harga buku

: Rp. 33.200,00

Cetakan ke

: Pertama

ISBN

: 978-602-391-091-5

 



Candra dan Fabian pada awalnya sepasang kekasih yang bertekad ingin membuktikan pada orang-orang meskipun berbeda keyakinan mereka mampu membangun hubungan percintaannya dengan baik. Ya, mereka berdua adalah pasangan yang berbeda keyakinan dan berbeda budaya pula, Fabian berbudaya Tionghoa dan Candra berasal dari Jawa. Namun kesemuanya itu tidak menghalangi mereka untuk tetap bersama. Bahkan dari hari ke hari hubungan mereka kian kuat. Hingga pada akhirnya suatu peristiwa yang membuat mereka berdua harus berpisah, bukan karena keduanya memiliki hubungan dengan yang lain , namun karena tokoh laki-laki (Fabian) meninggal dunia. Hal ini menampar keras batin Candra dan membuat Candra tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Tentu saja kita dapat bersimpati dengan perasaan Candra, apalagi kalau kita membayangkan berada pada posisinya, betapa sedih hatinya apalagi kekasihnya yang selama ini dicintainya pergi meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi sampai kapan pun.

Novel ini juga menceritakan perjuangan Candra dalam melawan kesedihan dan kegalauannya sendiri setelah kepergian Fabian. Dalam perjalanannya pun akan dijumpai tokoh-tokoh lain yang berusaha memberikan kekuatan pada Candra agar segera move on dan mengikhlaskan kepergian kekasihnya itu, seperti tokoh Joseph dan Marlin yang adalah sahabat Candra, dan juga orang tua Fabian yaitu Ibu Rasmi dan Bapak Arga. Mereka memiliki peran yang cukup penting dalam cerita ini demi menyemangati Candra dalam menata hidupnya kembali setelah kepergian kekasihnya, Fabian. Hingga seiring berjalannya waktu Candra sadar bahwa ia harus ikhlas atas kepergian Fabian dan berusaha menata hidupnya kembali dengan lebih baik,termasuk hubungan percintaannya.

Dari novel ini saya belajar cinta tidak akan pernah memandang latar belakang apapun, apa statusmu, dari mana asalmu, kalau kamu cinta seseorang ya itulah cinta, tidak bisa dipaksakan ataupun dihindari , karena kalau kita sudah mencintai akan ada jalan yang terbuka sehingga perbedaan-perbedaan tadi tidak akan menjadi penghalang lagi.

Kelebihan buku : kisah yang dibahas cukup menarik dan anti-mainstream, sehingga menarik untuk dibaca dan diikuti.

Kekurangan buku : ending yang membingungkan, dan cover buku yang terlalu penuh sehingga judul novel sendiri tertutup oleh ilustrasi yang terlalu banyak di cover.

Pancasila: Pilar Kebangkitan Bangsa



Tanggal 1 Juni yang diperingati sebagai Hari Pancasila, adalah momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk merayakan dan merefleksikan nilai-nilai yang menjadi fondasi keberadaan negara ini. Pancasila, sebagai falsafah negara, tidak hanya menjadi semangat bagi generasi masa lampau, tetapi juga harus menjadi pijakan yang kokoh bagi pemuda Indonesia, harapan masa depan, dalam membangun dan mengawal keutuhan dan kemajuan bangsa. Sebagai pilar kebangkitan bangsa, Pancasila memancarkan cahaya keadilan, persatuan, dan kesejahteraan.

Pertama-tama, Pancasila membangun landasan yang kokoh bagi persatuan bangsa Indonesia. Dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti "Berbeda-beda namun tetap satu juga", Pancasila menegaskan pentingnya menghargai perbedaan dalam masyarakat yang multikultural seperti Indonesia. Hal ini mengajarkan kepada pemuda Indonesia untuk menerima dan menghormati keragaman budaya, agama, suku, dan bahasa sebagai kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dipertahankan.

Kedua, Pancasila mendorong terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip keadilan sosial, yang menjadi salah satu poin dalam Pancasila, menuntut pemerataan kesempatan dan pembagian hasil pembangunan secara adil bagi semua lapisan masyarakat. Hal ini memanggil pemuda Indonesia untuk menjadi agen perubahan yang aktif dalam memerangi ketidakadilan, termasuk kesenjangan ekonomi, pendidikan, dan akses terhadap layanan kesehatan.

Ketiga, Pancasila menjunjung tinggi nilai demokrasi dan keterlibatan aktif rakyat dalam proses pembangunan negara. Pancasila menegaskan bahwa kekuasaan tertinggi ada pada rakyat, dan pemerintah bertanggung jawab untuk melayani kepentingan rakyat. Oleh karena itu, pemuda Indonesia diharapkan menjadi pelopor dalam memperkuat partisipasi politik dan sosial, serta mengawal proses demokratisasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam merayakan Hari Pancasila, kita juga menatap masa depan dengan harapan besar kepada pemuda Indonesia. Harapan tersebut adalah agar mereka menjadikan Pancasila bukan hanya sebagai semangat yang menggema setiap tanggal 1 Juni, tetapi juga sebagai pedoman hidup dalam setiap tindakan dan keputusan mereka. Pemuda Indonesia diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menginspirasi, menggerakkan, dan mengawal bangsa menuju arah yang lebih baik, sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, pemuda Indonesia dapat menjadi kekuatan yang mendorong kebangkitan bangsa. Mereka adalah generasi penerus yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan memperjuangkan keutuhan, keadilan, dan kesejahteraan bangsa. Semoga setiap generasi pemuda Indonesia dapat menjalani peran dan misi tersebut dengan penuh kesadaran, keberanian, dan integritas, sehingga Indonesia terus bersinar sebagai negara yang berdaulat, adil, dan makmur. Selamat Hari Pancasila!

Resensi Buku "Langit Jingga di Acapulco"

Judul

: Langit Jingga di Acapulco

Penulis

: Triya Elmor

Penerbit

: de TEENS

Kategori

: Novel

Tahun Terbit

: 2015

Jumlah halaman

: 300 halaman

Ukuran buku

: 13 x 19 cm

Harga buku

: Rp.33.200,00

Cetakan ke

: Pertama

ISBN


: 978-602-255-953-5









Novel ini pada intinya mengisahkan hubungan cinta dalam persahabatan. Terdapat tiga tokoh utama yaitu Mia, Reza, dan Kevin. Mia dan Reza sebelumnya adalah sepasang kekasih dan diam-diam Kevin juga memendam perasaan suka pada Mia dan mereka bertiga adalah sahabat.

Cerita bermula ketika secara tiba-tiba Reza memutuskan hubungannya dengan Mia tanpa alasan yang jelas ( pada awalnya ) sehingga membuat Mia geram dan tidak mau berhubungan lagi dengan Reza. Persahabatan yang semula terjalin pun akhirnya sedikit retak karena Kevin merasa iba pada Mia. Namun pada beberapa bab sebelum ending dijelaskan perasaan Reza bahwa dia masih cinta dengan Mia,namun karena suatu hal dia terpaksa memutuskan hubungan dengannya. Sehingga hal ini yang membuat pembaca kesal pada tokoh Reza sekaligus penasaran alasan Reza memutuskan hubungannya dengan Mia secara sepihak itu. Hingga pada akhirnya penulis menjelaskan di akhir cerita alasan tersebut yang berhubungan dengan kejadian masa lalu Adry, ayah Reza dengan ibunya Mia bernama Kirana yang tidak mengenakan. Sehingga membuat Reza memilih untuk mengakhiri hubungan dengan Mia.

Dari novel ini saya secara pribadi dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus bertanggung jawab atas semua yang kita lakukan agar semua berjalan dengan baik dan tidak ada pihak yang dirugikan. Seperti sikap Adry yang tidak bertanggung jawab atas tindakannya di masa lalu sehingga merugikan banyak pihak. Selain itu lewat novel ini saya belajar bahwa pasti ada suatu alasan yang mendasari tiap orang melakukan sesuatu, entah itu alasan yang baik ataupun buruk, apalagi yang dilakukan secara sepihak, maka dari itu kita tidak perlu emosi terlebih dahulu, kita harus mencari terlebih dahulu alasan tersebut sehingga hubungan kita masih dapat berakhir baik tidak menciptakan permusuhan. 

Kelebihan buku : ceritanya menarik, penulis mampu membangun rasa kebencian pada tokoh Reza, bahasa yang digunakan juga mudah dipahami dan dimengerti, cover buku yang menarik dan kekinian.

Kekurangan buku : latar waktu yang terlalu  banyak membuat pembaca agak kesulitan menentukan waktu persis suatu peristiwa, penulis terlalu bertele-tele dalam menjelaskan alasan di balik tokoh Reza yang mengambil tindakan sepihak tersebut, sudut pandang orang yang digunakan juga terlalu banyak sehingga membuat pembaca bingung.



Hubungi Saya

Telepon :

+628**********

Alamat :

Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur
Indonesia

Email :

fidelnarnia01@gmail.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Resensi Buku "Cinta Tak Kenal Batas Waktu"

Judul : Cinta Tak Kenal Batas Waktu Penulis : Wulan Murti Penerbit : Senja ...